Ekstrakurikuler Hadroh adalah kegiatan yang berfokus pada seni musik tradisional bernuansa Islami, menggunakan alat musik rebana untuk mengiringi pembacaan sholawat atau syair-syair Islami1. Hadroh telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, dan digunakan saat baginda Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, disambut dengan nyanyian “thola’al badru ‘alaina” yang diiringi oleh hadroh1.
Di Indonesia, ekstrakurikuler Hadroh sering ditemukan di pesantren dan madrasah-madrasah yang memberikan kesempatan kepada siswa dan siswi untuk mengasah kemampuan dalam seni musik rebbana. Ini juga menjadi sarana untuk mendidik siswa agar lebih mencintai irama musik Islami yang berisi sholawat kepada Nabi1. Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada mereka yang sudah memiliki kemampuan, tetapi juga terbuka bagi yang ingin belajar.
Salah satu tujuan dari ekstrakurikuler Hadroh adalah untuk memperkenalkan tradisi kesenian Islami kepada siswa, yang di masa lalu dikenal dengan istilah “sholawatan”. Dengan hadroh, siswa dapat menyampaikan syiar melalui syair yang dapat menyentuh hati pendengarnya dan meningkatkan cinta mereka kepada Rasulullah SAW1.
Ekstrakurikuler Hadroh di MTs Entrepreneur AL Aly Sukomoro atau Lembaga Pendidikan Yayasan Al Aly Sukomoro, misalnya, adalah sarana yang memberikan kesempatan kepada siswa dan siswi untuk mengasah kemampuan mereka dalam bidang seni musik rabbana1. Ini menunjukkan betapa pentingnya ekstrakurikuler Hadroh dalam pendidikan Islami dan pengembangan bakat seni musik tradisional.